1) yang dimaksud dengan lingkungan pengendalian manajemen dan yang dibahas didalamnya:
lingkungan pengendalian manajemen merupakan jaringan kerja organisasi tempat manajemen melaksanakan tugas pengendalian. lingkungan pengendalian juga menyangkut perilaku individu di dalam berbagai jenis organisasi terutama terkait dengan tanggung jawab baik keuangan dan non keuangan diberbagai unit dan sub unit organisasi.
lingkungan pengendalian meliputi :
a. pusat pertanggung jawaban:
1. pusat pendapatan
2. pusat biaya
3. pusat laba
4. pusat investasi
b. penetapan harga transfer
c. pengendalian dan pengukuran penggunaan asset
2) sistem adalah sekelompok elemen yang terintegrasi dengan maksud untuk mencapai tujuan tertentu.
pengendalian menurut stoner : suatu proses untuk meyakinkan bahwa berbagai aktivitas yang telah dilaksanakan sesuai dengan aktivitas yang direncanakan.
manajemen : sekelompok orang yang terlibat dalam pengendalian organisasi.
sistem pengendalian manajemen : sebuah sistem yang terdiri dari beberapa sub sistem yang saling berkaitan, yaitu : pemprogramana, penganggaran, akuntansi, pelaporan dan pertanggung jawaban untuk membantu manajemen mempengaruhi orang lain dalam sebuah perusahaan.
• Mengapa perlu sistem pengendalian manajemen? Karena kehadiran sistem pengendalian manajemen disebabkan adanya keterbatasan system manajemen dalam organisasi. Manajemen puncak punya keterbatasan untuk memastikan dan menjamin efektifitas dan efesiensi perusahaan dalam mencapai tujuan yang ditentukan. Dengan adanya SPM berate perusahaan memiliki acuan untuk menjalankan segala sesuatu sesuai dengan apa yang telah ditentukan.
a. Elemen – elemen system pengendalian
a. Detector (pelacak)
Elemen ini berguna untuk mengukur apa yang sesungguhnya terjadi dalamproses yang sedang dikendalikan.
b. Assessor (penilai)
Elemen ini berguna untuk menentukan signifikansi dari peristiwa actual dengan cara membandingkan nya dengan standar atau ekspektasi dari apa yang seharusnya terjadi.
c. Effector
Elemen ini berguna untuk mengubah perilaku proses yang sedang dikendalikan jika assessor mengidentifikasikan adanya kebutuhan untuk melakukan perubahan tersebut.
d. Communication Network
Elemen ini berguna sebagai sarana untuk menyalurkan informasi antara elemen-elemen yang ada dan proses yang sedang dikendalikan
Contoh-contoh pada perusahaan :
a. Detector : pelaporan atas kondisi yang sedang terjadi pada perusahaan.
b. Assessor : rapat ekskutif senior yang membahas tentang kondisi yang sedang terjadi dan kondisi yang seharusnya terjadi.
c. Effector : keputusan eksekutif senior atas apa yang harus dilakukan untuk menindak lanjuti kondisi yang sedang terjadi.
d. Communication network : system informasi di dalam perusahaan yang menyampaikan pelaporan dan keputusan yang sudah dibuat.
3) Goal congruence adalah tercapainya keselarasan pencapaian tujuna antara tujuan organisasi dengan indivisu dalam organisasi.
Goal congruence diperlukan dalam pengendalian manajemen Karena dalam kenyataannya, tujuan organisasi tidak selamanya selaras dengan tujuan indivisu (orang-orang) dalam organisasi. Oleh Karena itu, system pengendalian manajemen yang baik harus mampu mendorong tercapainya keselarasan pencapaian tujuan antara tujuan organisasi dengan tujuan manusia – manusia (individu) dalam organisasi.
4) Faktor-faktor informal yang mempengaruhi goal congruence, sangat penting untuk di pahami dan diperhitungkan serta dipertimbangkan oleh seorang perancang system Karena factor-faktor informasl besar pengaruhnya terhadap efektivitas system pengendalian manajemen.
Factor informal yang mempengaruhi goal congruence dapat dikelompokan menjadi :
Factor internal : budaya organisasi, gaya manajemen, komunikasi informasi dalam organisasi,persepsi dan komunikasi.
5) macam-macam pusat pertanggung jawaban dalam organsasi :
Pusat pendapatan : menciptakan pendapatan bagi perusahaan
Pusat biaya : melakukan pencatatan, pekerjaan tertentu selain mencapai pendapatan/laba.
Pusat laba : menciptakan laba
Pusat investasi : menciptakan ROI, EVA
6) perbedaan discretionary expense center dan engineered expense center
Pusat biaya dapat digolongkan sesuai dengan karakteristik biaya. Ditinjau dari hubungan antara input dan output, biaya dapat di klasifikasikan menjadi dua golongan yaitu :
a) Biaya teknik (engineered expense)
Biaya yang hubungan antara output dan input mempunyai hubungan yang jelas dapat dihitung secara kuantitatif dan proporsional. Contoh : biaya teknik ialah biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Karakteristik pusat biaya teknik, ialah:
1. Input – output nya dapat diukur dengan satuan unit moneter
2. Input – output nya dapat diukur dalam bentuk fisik
3. Jumlah optimum input yang akan diproduksi untuk satu unit output produksi bisa diukur.
4. Pengukuran kinerjanya adalah efisiensi biayanya, disamping itu mutu produk dan volume produksinya juga menjadi dasar pengukuran kinerja.
b) Biaya kebijakan (discretionary expense)
biaya yang hubungan antara input dan outputnya tidak jelas dan sulit untuk diukur secara kuantitatif serta tidak bersifat proporsional. Contoh biaya kebijakan, yaitu : biaya administrasi, biaya penelitian dan pengembangan, biaya pemasaran dan sebagainya. Karakteristik biaya kebijakan, yaitu :
1. Inpunya dapat diukur dengan satuan unit moneter
2. Outputnya diukur bukan bentuk fisik (moneter)
3. Jumlah optimum input yang akan diprosuksi untuk satu unit output produksi tidak bisa di ukur.
7) organisasi divisi /divisional juga organisasi fungsional
a. organisasi fungsional (fungsional structure)
dalam struktur ini setiap manajer bertanggung jawab terhadap kegiatan – kegiatan utama/ pokok didalam organisasi. Tujuan pembentukan organisasi ini adalah untik efisiensi dalam penyelenggaraan prose manajemen. Namun demikian struktur organisasi ini memiliki kelemahan, yaitu :
1. Tidak jelas menentukan efektifitas manajer fungsional secara terpisah
2. Jika terdapat beberapa manajer dalam satu fungsi, terdapat kemungkinan terjadi perselisihan antar manajer, dan hanya dapat diselesaikan pada level yang lebih atas
3. Struktur fungsional tidak cocok diterapkan pada perusahaan dengan produk dan pasar yang beragam koordinasu=I lintas fungsi dalam pengembangan produk baru.
b. struktur unit usaha (business unit structure)
dalam struktur ini setiap manajer bertanggungjawab terhadap pengelolaan unit usaha tertentu yang mempunyai aktifitas yang sangat khusus. Tujuan organisasi unit bisinis (sering disebut divisional) adalah untuk mengukur kinerja masing-masing unit bisnis serta untuk mengatasi kekurangan pada organisasi fungsional. Keuntungan struktur ini adalah
1. Sebagai pelatihan bagi manajer secara umum untuk meningkatkan kewirausahaannya secara independen (tidak tergantung padakantor pusat sepenuhnya)
2. Unit bisnis lebih dekat dengan pasar dari produknya dibandingkan dengan kantor pusat, sehingga pembuatan keputusan yang lebih cepat dan baik.
Kerugian struktur ini adalah :
1. Kemungkinan terdapat duplikasi pekerjaan dalam oganisasi fungsional yang dikerjakan di kantor pusat
2. Timbul perselisihan antar unit unit bisnis yang bisa menimbulkan konflik antara pegawai unit bisnis dengan kantor pusat.
8) pusat laba merupakan suatu pusat pertanggungjawaban yang betugas menciptakan laba, diberi wewenang mengatur laba, dan diukur prestasinya berdasarkan laba yang diperoleh/
9) tipe-tipe pengukuran profitabilitas untuk mengukur kinerja manajer pusat laba yang biasa di pergunakan adalah
1. Marjin kontribusi (contribution margin)
Selisih (spread) antara pendapatan dan biaya variabel. Hal ini disebabkan Karena biaya variabel berada dalam kendali manajer tersebut, sedangkan biaya tetap diluar kendalinya.
2. Laba langsung (direct profit)
Margin kontribusi dikurangi biaya tetap pada pusat laba. Ini merupakan gabungan seluruh pengeluaran pusat laba atau dapat ditelusuri langsung ke pusat laba.
3. Laba yang dapat dikendalikan (controllable profit)
Laba langsung dikurangi beban biaya korporat yang dapat dikendalikan oleh manajer pusat laba. Contoh biaya yang dapat dikendalikan oleh manajer unit bisnis adalah biaya layanan teknologi informasi.
4. Laba sebelum pajak (income before tax)
Laba yang dapat dikendalikan dikurangi beban-beban korporat lainnya.
5. Laba bersih (net income)
Laba yang diperoleh setelah dikurangi oleh kewajiban pajak.
10) harga transfer / transfer pricing adalah transfer barang /jasa tersebut perlu dihitung niainya dengan wajar agar tercapainya keadilan dalam penghitungan laba bagi kedua unit organisasi yang mentransfer dan menerima barang/ jasa.
Harga transfer harus diberlakukan dalam organisasi Karena untuk mencapai tujuan-tujuan berikut :
1. Menyediakan informasi relevan yang diperlukan bagi unit bisnis dalam menentukan atau menghitung laba yang akurat dan adil.
2. Mendorong tercapainya goal congruent, artinya system transfer pricing hendaknya didorong/ dirancang agar keputusan yang diambil dalam penetapan harga transfer dapat mendorong tercapainya laba unit bsinis yang bersangkutan dan laba perusahaan secara keseluruhan.
3. Membantu pengukuran prestasi ekonomik (economic performance) yang adil atas unit-unit bisnis secara indivisual.
Metode transfer pricing
Prinsip mendasar dalam transfer pricing adalah bahwa harga transfer hendaknya di tetapkan setara dengan harga penjualan kepada pelanggan (customer) dari luar atau harga pembelian dari supplier dari luar.
11) pusat investasi merupakan pusat pertanggung jawaban yang bertugas untuk mengatur investasi guna mencapai laba yang seoptimal mungkin. Kewenangan pusat investasi adalah menyangkut pengelolaan laba (yang terdiri atas pendapatan dan biaya) serta mengelola asset yang dipergunakan untuk memperoleh laba.
Tujuan pengukuran prestasi suatu pusat investasi adalah :
1. Menyediakan informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan mengenai investasi yang digunakan oleh manajer divisi dan memotivasi mereka untuk melakukan keputusan yang tepat.
2. Mengukur prestasi divisi sebagai kesatuan usaha yang berdiri sendiri.
3. Menyediakan alat perbandingan prestasi antar divisi untuk penentuan alokasi sumber ekonomi.
Informasi dari pusat investasi dapat digunakan memotivasi manajer divisi dalam :
1. Menghasilkan laba yang memadai dengan wewenang mengambil keputusan tentang sumber ekonomi dan fasilitas fisik yang digunakan.
2. Mengambil keputusan untuk menambah investasi bila investasi tersebut memberikan kembalian (return) yang memadai.
3. Mengambil keputusan untuk melepas/mengurangi investasi yang tidak memberikan kembalian (return) yang memadai